Cekung

Tiga malam sudah
Sebelum panggilan terakhir dikumandangkan,
Aku selalu menatap bulir-bulir lampu di pucuk pandang.

Hening.

Mendamaikan.

Membuat semua ceracau seperti ditikam pisau
Hanya ada aku
dan temaram lampu

Lalu aku terlempar ke rumahmu
yang kubuat sendiri dari batu dan ragu
Kurupa bentuk kerja yang sedang kau lakukan
walau tak pasti benar
malah pasti tak benar

Tapi aku hanya mampu tergugu.

Sepertinya,
rindu ini telah menyatu
dengan resah karena terpisah

Biarkan

Biarkan aku hangus bersama butiran aksara

dan menjadi gila,

karenanya.

.
ditulis 8 Desember 2016

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan Seorang Penulis Tentang Mengapa Dia Menulis

Kita Tidak Pernah Sesingkat Ini

Menata Memori yang Berserakan