Posts

Showing posts from November, 2017

Berpura-pura

Dulu kita pernah sama-sama mencinta. sekarang kita sama-sama berpura-pura ; kamu pura-pura lupa, aku pura-pura bahagia.

Terlelap

Aku pernah terlelap di matamu membuatmu tidak melihat selain aku membuat semuanya abu abu merah muda hanya milikku. Aku pernah terlelap di dasar akalmu membuat logika menjadi asing dijamah hanya ada benang yang tak mau berjamaah ; Untukku segalanya menjadi mungkin Aku pernah terlelap di ruang kalbumu membuat tiada yang ada kecuali suka suka yang tabah dan pantang menyerah padaku kamu serahkan segala arah Aku ingin lebih lama lagi tertidur di sana tapi rupanya semakin lama semakin banyak yang ingin merasakannya. Dan orang baru bagimu merupakan kesenangan baru yang tak ingin kau lewatkan maka aku mulai terdesak dan dihimpit menuju pintu merah sembari merangkak akhirnya paripurna aku tak lagi disana ; Mulai esok malam, silahkan tidur di ranjang dengan sedih dan sepi.

Waktu Telah Begitu Cepat Bergulir

sedegup lagi dia akan dapatkan itu, keengganan yang hadir di setiap menu kebebasan yang diserahkan di setiap kertas kuning tawa disetiap usaha merambahkan bahagiamu protes yang akan selalu menada ketika terlalu banyak bicara. sedegup lagi dia akan dapatkan itu ; Hal yang mulanya kepunyaanku

Tulisan lama ; darimu untukku.

Malam ini aku berhamburan ; Tulisan usang yang bagimu sudah berdebu dan tak layak lagi dikenang, kembali aku temukan. dulu aku memang sengaja menyimpannya di rak paling rapih dan rahasia. meski rapatnya membuatku lupa pernah menyimpannya, tapi malam ini mau tak mau pesan itu kembali terbuka. dan terbaca. Sebuah paragraf perayaan bagian kecil dari hidup kita, saat kata-kata masih berupa kita ; yang bukan nafsi-nafsi. Aku sangsi sanggup membacanya sendiri. Kamu yang harusnya menemani, kulihat sudah di tepi lari dan hampir mati. Jadi dengan hati-hati kubuka kembali pesan ini. Malam ini, aku berhamburan

Sebuah Pesan Untukmu

02.34 Kamu yang tak pernah mau dikekang membebaskan dirimu sendiri ; yang dengan segala kepedihannya harus kuterima. Waktu berputar cepat. Begitu juga kamu. Kita pernah sama sama ada di titik rindu lalu kamu tinggalkan aku disitu. bersama lembaran album dan kecupan palsu. Bagimu, pernah bersamaku adalah sebuah kepingan yang ingin sekali kamu tepuk sampai remuk. Pesanku yang dulunya merah muda telah kau sulap menjadi abu, antara hitam dan tiada. Lalu kau menjadi lupa dan gagu, diantara sekian lebatnya rimba hidupmu pernah ada aku, yang pernah rela berdarah hanya untuk bertanya kabarmu. Kita pernah sama-sama ada di titik itu, Sampai akhirnya punggungku sudah menjadi asing bagimu ; Rendah dan berbahaya. Lalu kau tinggalkan aku, dan mengucap "semuanya masih baik-baik saja"