Posts

Showing posts from January, 2018

M-E-L-U-P-A-K-A-N

Disebelahku kaca mengembun, bunga-bunga di luar ruangan terlihat segar. Asap dingin melayang dari segelas minuman coklat di atas meja. "Emangnya kamu gamau balik lagi?" suara beratku mengambang. Mengalir di sejuknya udara sekitar. Hening. Tak ada jawaban. "Ooh. Kalo gamau ya gapapa. Seengganya nanti aku coba usaha lupain." Yang terdengar hanya alunan musik pelan dari pengeras suara di sudut-sudut ruangan. "Rasanya buat berdamai aku gaakan mampu. Kalo untuk lupa kita pernah bersama, doain aja bisa." ............ "Rupanya cinta benar-benar bisa membuat seseorang menjadi gila," ujar pegawai kafe pelan dari meja kasir sembari melihat seorang laki-laki yang sedari tadi bicara dengan kursi kosong di seberangnya sambil menangis. "Mungkin itu usahanya untuk melupakan ; hal berat yang mau bagaimanapun harus dilakukan," teman kasirnya menimpali

Menunggu

Nanti dalam hidup,  ada masanya kita akan menunggu. Sebagian menunggu dengan menghabiskan kopi dan cerutu. Tertawa dan saling ledek dengan sekutu. Sebagian lain menunggu sambil menghitung waktu. Matanya meneteskan air sambil malu-malu hatinya tergugu, " T uhan jangan biarkan aku lebih lama menunggu." Nanti dalam hidup,  ada masanya kita akan menunggu. Kamu boleh pilih cara menunggu yang paling menyenangkan bagimu. Tapi dengar aku, Tak semua yang ditunggu akan datang. Ia sebuah ketidakpastian yang kita nantikan kepastiannya. Jangan terlalu berharap agar tak kecewa terlalu banyak. Jika tak ingin menunggu, tinggalkan. Hidup adalah pilihan.

Mungkin

Mungkin setiap malam yang kamu lalui berakhir dengan senyuman. dalam kesempatan berfikir lebih dalam aku pernah bertanya Dalam setiap malam-mu yang bukan lagi tentang aku, pernahkah kamu merasa sendu dan lama tergugu ? Hingga kamu yang menjawab sendiri kemarin malam, lewat pesan singkat. Yang dekat tidak pernah mengecewakan. Seandainya malamnya aku rindu, aku tetap tersenyum. Karena kami bisa bertemu esok dan berkencan di hari sabtu. Hingga akhirnya dalam kesempatan yang lain aku berfikir lebih dalam lagi, Oh. Jarak lupanya dapat memukul jatuh dan membuat kita berdarah-darah sampai kalah. Lalu aku membaca doa, semoga apa-apa yang membuatmu bahagia, tetap begitu adanya.

Aku ingin melihatmu sebagai hal yang biasa saja

"Disini tulisannya laki-laki yang pendek lebih memiliki kepribadian yang menyenangkan," aku menggeser muka dari layar dan menatapmu di seberang meja. Kamu memberikan telapak tanganmu, "talk to my hand," katamu sambil tertawa. Aku menepuk tanganmu sambil ikut tertawa, "songong banget." Cerita tentang kita memang sudah berakhir. Tapi rupanya kesempatan masih memberi kita ruang untuk sesekali bertemu. Tanpa ikatan apapun. "Lagian emang kenapa kalo menyenangkan?" Kamu mulai pura-pura serius menanggapi percakapan. "Gapapa. Cuma......" "Cuma apa?" "Cuma menyenangkan lawan kata menyedihkan," ujarku sambil tergelak "Ish bodooo ganyambung!" kamu yang sebal mulai memeragakan kebiasaan ; mulut membulat dan menatap lawan bicara. Aku menatapmu balik. Dalam hitungan detik aku menyadari sesuatu ; Aku belum bisa menatapmu seperti bukan siapa-siapa. Aku belum bisa menatapmu seperti menatap kasir minimarket yang ...