Posts

Showing posts from December, 2016

Melayang Jauh

Aku mulai ragu mencipta puisi-puisi baru Puisi yang rasanya hanya menerka yang hanya berjudi dengan instuisi teka-teki tanpa tepi Aku mulai mencari sisa-sisa kata yang tersisa di dasar remah jiwa kupunguti dengan seksama lalu coba kurangkai hingga tertata Semoga hasilnya tak buatmu jenuh yang sebabkan dirimu jadi jauh dan aku jadi jatuh hilang ditelan dasar yang runtuh dan takbisa disentuh Selamat menangkap yang luruh

Beludru

Kuambil lagi bulan dipekat malam kujadikan tinta pena kucipta kertasnya dari mutiara kutumbuk dan kucetak semuanya Rindu memanggil lagi tapi buntu sedang menjadi aku hingga sadar kupecat tanpa sadar dan buatku mengigau cinta, rindu, resah, dan benci berafiliasi menjadi metafora atas diri yang sepi aku rindukan kamu disini semoga kamu disana belum mau mati Karena cinta, masih menyulamku ke arahmu dan menyapa frasa yang kaku dan beku Selamat bersekutu dengan pekat yang di buru

Cekung

Tiga malam sudah Sebelum panggilan terakhir dikumandangkan, Aku selalu menatap bulir-bulir lampu di pucuk pandang. Hening. Mendamaikan. Membuat semua ceracau seperti ditikam pisau Hanya ada aku dan temaram lampu Lalu aku terlempar ke rumahmu yang kubuat sendiri dari batu dan ragu Kurupa bentuk kerja yang sedang kau lakukan walau tak pasti benar malah pasti tak benar Tapi aku hanya mampu tergugu. Sepertinya, rindu ini telah menyatu dengan resah karena terpisah Biarkan Biarkan aku hangus bersama butiran aksara dan menjadi gila , karenanya . . ditulis 8 Desember 2016

Tidak Sama Sekali

Ini masih sulit dipercaya. Aku disini sedang bermain hati dengan gerimis Kamu disana sedang apa? Ini terlalu sulit dipercaya Sekarang aku harus terbangun tanpa tahu apakah kamu sudah ikut terbangun. Keterpisahan ini sama sekali tidak membangun Aku harus memaksa diri yang hilang menuju kelas yang tenang tanpa tahu kamu mungkin sedang termenung dipayungi hening pandang. Keterpisahan ini sama sekali tidak menenangkan . Ini terlalu sukar dipercaya Aku bilang kamu harus yakin Tapi aku bahkan gagal meyakini diriku sendiri bahwa kau disana sudah yakin Keterpisahan ini sudah seperti dongeng saja ; tak meyakinkan . Rindu ini masih terlalu menyesakkan Semoga kau masih dalam pelukan

Jika Jatuh

Rindu ini semakin menyiksa saja . Sore ini, butir-butir hujan beradu dengan atap pondok. Bersamanya, kuterka kehadiranmu. Lalu kuucapkan padanya, Jika kamu nanti juga jatuh di atap rumah putriku, bilang padanya aku rindu. Dan rindu ini mulai membuatku gila .

Surat untuk Dilan

Hai, Dilan! Dulu aku sangat setuju denganmu. Kau bilang, rindu itu berat. Tapi kini aku lebih setuju denganku. Egoistik . Bahwa jika Dilan yang setiap hari bertemu Milea saja bilang rindu itu berat, Apalagi untukku yang dikutuk jarak dan aturan keparat ? Semoga aku kuat Dilan. Iya, doakan. . ditulis 6 Desember 2016 - Rindu ini mulai membuatku gila-

Aku Mulai Menggilai Rindu

Rindu ini semakin menyiksa saja . Pegal dan remuk setiap terbangun Menyapamu lewat terka, Sedang apa ? Pagi yang katanya selalu suci kembali lagi. Dirusak oleh sesak. Aku menatapmu lagi lewat prakira, Sedang apa ? Rindu ini semakin menyiksa saja . Senja selalu turunkan durja Bersama oranye yang tak bersuara Aku kembali merasa melalui duga, Sedang apa ? Sedang apa ? Sedang apa ? Sedang apa ? Gemetar lampu dikejauhan membuatku membangun rumahmu Lalu kutidurkan dirimu disitu Lagi-lagi hanya semu. Aku rindu tanah yang satu. Rindu ini semakin menyiksa saja. . ditulis 6 Desember 2016 - semoga waktu mau membantu -

P.E.R.G.I

Keterpisahan jarak yang dulu kuanggap semu, kini telah jadi niscaya. Ditempat kamu dulu berada, disini, kini, Tiada lagi bintang yang membawa pesan darimu Yang biasanya menada bersama separuh bulan. Tiada lagi gerimis magis yang kau lempar untuk mendekatkan harapan. Tiada lagi terik yang membuatku tahu kau pasti sembunyi di balik dinding dan ranjang tebal. Karena sudah tiada lagi kamu yang terkadang malu untuk ragu . Aku disini merasa isakmu di rumah. Senja membuatku ikut terisak bersama syahdunya yang mendesak Angin malam datang. "Tidurlah!" Ujarnya kencang Mengecakku yang hina dan terbuang. Doakan. Pintaku padanya Semoga angin kembali ke pelukan malam sambil berbisik Amiin . . Ditulis 5 desember 2016 Rindu ini semakin menyiksa saja .