Sebuah prosa tentang perjalanan
Senyap berkabut menggantung di langit-langit Jakarta Selaras dengan jiwa-jiwa yang mengering dibawahnya Keselarasan yang bersenggama, Layaknya tertawa, dalam hunusan duka Ramai dengung bercerita. Berpilinan dengan sesak. Berbaur bersama isak. Katanya, hidup adalah perjalanan Yang termaknai bagi yang memaknai Yang ternodai bagi yang menodai Gundukan tanah yang searah dengan pandangan kita, kini telah mengandung jasad. Mungkin bagimu itu menyiksa. Hadirkan retak tentang hari esok yang gelap. Lusa yang hampa dalam ketertatihan Maka kamu membenak : Benar sekali kata mereka . Sesuatu , seseorang , baru kau rasa keberadaannya , justru saat ia tiada . Saat nafasnya telah jatuh terduduk . Dan terhenti . Maka beruntunglah Allah menciptakan dua segi kacamata dalam melihat kepergian Dalam melihat kepedihan Kacamata pertama ialah sisi yang ditinggalkan Terlalu banyak hela duka didalamnya Terlalu lara dahaga yang terasa Kacamata kedua ialah segi yang meningg...