Sebuah prosa tentang perjalanan
Senyap berkabut menggantung di langit-langit Jakarta
Selaras dengan jiwa-jiwa yang mengering dibawahnya
Keselarasan yang bersenggama,
Layaknya tertawa, dalam hunusan duka
Ramai dengung bercerita. Berpilinan dengan sesak. Berbaur bersama isak.
Katanya, hidup adalah perjalanan
Yang termaknai bagi yang memaknai
Yang ternodai bagi yang menodai
Gundukan tanah yang searah dengan pandangan kita, kini telah mengandung jasad.
Mungkin bagimu itu menyiksa. Hadirkan retak tentang hari esok yang gelap. Lusa yang hampa dalam ketertatihan
Maka kamu membenak :
Benar sekali kata mereka. Sesuatu, seseorang, baru kau rasa keberadaannya, justru saat ia tiada. Saat nafasnya telah jatuh terduduk. Dan terhenti.
Maka beruntunglah Allah menciptakan dua segi kacamata dalam melihat kepergian
Dalam melihat kepedihan
Kacamata pertama ialah sisi yang ditinggalkan
Terlalu banyak hela duka didalamnya
Terlalu lara dahaga yang terasa
Kacamata kedua ialah segi yang meninggalkan
Hei, bukankah Allah cinta padanya? Tersebab ia Dia ambil darimu.
Bukankah engkau lebih memilih tanggap mengambil benda yang kamu cintai kala benda itu terpinjam oleh yang meminjam?
Sepatutnya engkau lebih khawatir akan dengung nafas dan jejak tapakmu sendiri
Bukankah gulungan not hitam yang kau pintal masih terlampau amat ramai?
Bukankah amat derik benang bening yang kau resonankan?
Maka, sehat sekali seruan pujangga,
"Hidup adalah perjalanan"
Perjalanan sembari meretas. Sembari mengutas
Tentang suka, duka, cinta, luka, gembira, lara, bahagia, senyum, tangis, magis, tragis, resah, mudah, bimbang, sukar.
Tentang pilinan dari sekujur rasa.
Untaian dari seluruh cerita.
Hingga terang sekali bentuk kejelasan ;
Semua peristiwa, seluruh cerita, sejatinya hanya lembaran. Hanya jalinan.
Untuk menguji,menilik,menimbang.
Telah pantaskah kau mengulir nikmat-Nya?
-semoga engkau setegar namamu-
Comments
Post a Comment