Posts

anak laki-laki

malam, apakah laki-laki tidak boleh sakit hati? saat perasaannya tidak dihargai saat apa-apa yang menurutnya telah ia bela dengan harga diri melukainya sekali lagi kelam, apa laki-laki harus melulu tegar diri ketika apa yang dicintai membuat hela nafas tak berhenti menanti lalu tetap disalahi dan dibiarkan pergi apa memang seperti itu?

Kamu dan Senja di Gerbang Sekolah

Hitungan setengah dasawarsa tinggal di terungku putih membuatku lupa ada bara lain yang dibawa orang-orang saat pergi sekolah : Nyala renjana. Putaran dua belas bulan terakhirku kuhabiskan di gerbang baru ; di tempatmu berburu ilmu. Dan kamu dengan segala tingkah laku membuatku memantik gelora itu. Adalah pagi, yang selalu jadi saksi dalil-dalil merah muda yang mengantarku ke kursi biru dua kaki Lalu senja yang hanya sesaat membuatku tersesat kalang-kabut mencari ujung tasmu yang selalu pulang cepat entah karena dididik untuk tidak ke rumah terlambat atau ingin segera menonton drama sampai tamat yang jelas, satu-satunya senja yang kubenci adalah senja di gerbang sekolah saat deru motormu berbalik arah ; Pulang ke rumah

Menata Memori yang Berserakan

Dengan motor butut yang hampir semua orang punya, dia pulang menempuh memorinya. proyeksi gambar dari lintingan kenangan di kepalanya membuatnya sesak meski malu untuk terisak. mencermati susuran aspal dan dinding-dinding tebal, lalu menerka tentang apa laku yang pernah ada antara dia dan kekasihnya disana Dengan ransel yang satu-satunya, dia pulang menempuh memorinya. dalam safar yang terasa jauh ini dia berharap jatuh selelah-lelahnya. agar lelahnya habis dan tidak lagi hinggap di setiap dua puluh empat jamnya agar setelah ia pergi lagi dari sana hatinya lega dan tak lagi nelangsa. Dengan sepatu yang itu-itu saja, dia pulang menempuh memorinya. sambil menyusun satu persatu perkara di tepian jalan, lalu berdoa semoga seperti merpati, kenangan ini terbang dan tak perlu lagi mencari.

Tulisan Seorang Penulis Tentang Mengapa Dia Menulis

Ini malam hari. Pukul sebelas. Seseorang yang suka menulis baru saja menutup album fotonya, lalu menulis. Ia hanya ingin bercerita, hanya ingin berbagi meski dibaca hanya oleh dirinya sendiri. Karena tak punya tempat untuk berbagi selain t uhannya dan dirinya sendiri, ia menulis puisi. Dalam puisinya tertulis, "Meski semua yang kuharapkan dapat jadi tempat berbagi pergi, diri sendiri tak akan pernah lari." Karenanya sekarang ia lebih suka menyendiri.

M-E-L-U-P-A-K-A-N

Disebelahku kaca mengembun, bunga-bunga di luar ruangan terlihat segar. Asap dingin melayang dari segelas minuman coklat di atas meja. "Emangnya kamu gamau balik lagi?" suara beratku mengambang. Mengalir di sejuknya udara sekitar. Hening. Tak ada jawaban. "Ooh. Kalo gamau ya gapapa. Seengganya nanti aku coba usaha lupain." Yang terdengar hanya alunan musik pelan dari pengeras suara di sudut-sudut ruangan. "Rasanya buat berdamai aku gaakan mampu. Kalo untuk lupa kita pernah bersama, doain aja bisa." ............ "Rupanya cinta benar-benar bisa membuat seseorang menjadi gila," ujar pegawai kafe pelan dari meja kasir sembari melihat seorang laki-laki yang sedari tadi bicara dengan kursi kosong di seberangnya sambil menangis. "Mungkin itu usahanya untuk melupakan ; hal berat yang mau bagaimanapun harus dilakukan," teman kasirnya menimpali

Menunggu

Nanti dalam hidup,  ada masanya kita akan menunggu. Sebagian menunggu dengan menghabiskan kopi dan cerutu. Tertawa dan saling ledek dengan sekutu. Sebagian lain menunggu sambil menghitung waktu. Matanya meneteskan air sambil malu-malu hatinya tergugu, " T uhan jangan biarkan aku lebih lama menunggu." Nanti dalam hidup,  ada masanya kita akan menunggu. Kamu boleh pilih cara menunggu yang paling menyenangkan bagimu. Tapi dengar aku, Tak semua yang ditunggu akan datang. Ia sebuah ketidakpastian yang kita nantikan kepastiannya. Jangan terlalu berharap agar tak kecewa terlalu banyak. Jika tak ingin menunggu, tinggalkan. Hidup adalah pilihan.

Mungkin

Mungkin setiap malam yang kamu lalui berakhir dengan senyuman. dalam kesempatan berfikir lebih dalam aku pernah bertanya Dalam setiap malam-mu yang bukan lagi tentang aku, pernahkah kamu merasa sendu dan lama tergugu ? Hingga kamu yang menjawab sendiri kemarin malam, lewat pesan singkat. Yang dekat tidak pernah mengecewakan. Seandainya malamnya aku rindu, aku tetap tersenyum. Karena kami bisa bertemu esok dan berkencan di hari sabtu. Hingga akhirnya dalam kesempatan yang lain aku berfikir lebih dalam lagi, Oh. Jarak lupanya dapat memukul jatuh dan membuat kita berdarah-darah sampai kalah. Lalu aku membaca doa, semoga apa-apa yang membuatmu bahagia, tetap begitu adanya.