Aku ingin melihatmu sebagai hal yang biasa saja
"Disini tulisannya laki-laki yang pendek lebih memiliki kepribadian yang menyenangkan," aku menggeser muka dari layar dan menatapmu di seberang meja.
Kamu memberikan telapak tanganmu, "talk to my hand," katamu sambil tertawa.
Aku menepuk tanganmu sambil ikut tertawa, "songong banget."
Cerita tentang kita memang sudah berakhir. Tapi rupanya kesempatan masih memberi kita ruang untuk sesekali bertemu. Tanpa ikatan apapun.
"Lagian emang kenapa kalo menyenangkan?" Kamu mulai pura-pura serius menanggapi percakapan.
"Gapapa. Cuma......"
"Cuma apa?"
"Cuma menyenangkan lawan kata menyedihkan," ujarku sambil tergelak
"Ish bodooo ganyambung!" kamu yang sebal mulai memeragakan kebiasaan ; mulut membulat dan menatap lawan bicara.
Aku menatapmu balik.
Dalam hitungan detik aku menyadari sesuatu ;
Aku belum bisa menatapmu seperti bukan siapa-siapa.
Aku belum bisa menatapmu seperti menatap kasir minimarket yang tersenyum dan menawarkan pulsa.
Aku belum bisa menatapmu seperti menatap penjaga pintu bioskop saat menyerahkan tiket.
Aku bahkan belum bisa menatapmu seperti menatap teman sebangku ; tatapan sebatas teman.
Aku ingin melihatmu sebagai hal yang biasa-biasa saja,
tapi waktu rupanya belum mau banyak membantu.
Comments
Post a Comment