Tunggu

Riak air berteriak.
Mereka ramai dalam diam.
Entah berapa lagi sampan yang harus kukayuh, agar kau mengerti.
 Tulus telah tersulut. Setia bangun terjaga.

 Jangan buat aku mencari.
Hilangkan kabut yang buatmu rabun walau tak senja.
Masihkah kau genggam erat karat keji itu?

 Jangan buat aku mencari.
 Hapus segala gores yang telah Pikirmu toreh
 Haruskahku menjadi sempurna? Haruskah semua terlihat sama?
 Batinmu tergugat.
 Ketidaksempurnaan terkadang menjadi pelipur bagi yang sempurna.
Perbedaan selalu bisa menyatukan Rasa.
-Maka apa yang kau tunggu?-

Comments

Popular posts from this blog

Tulisan Seorang Penulis Tentang Mengapa Dia Menulis

Kita Tidak Pernah Sesingkat Ini

Menata Memori yang Berserakan