Ini malam hari. Pukul sebelas. Seseorang yang suka menulis baru saja menutup album fotonya, lalu menulis. Ia hanya ingin bercerita, hanya ingin berbagi meski dibaca hanya oleh dirinya sendiri. Karena tak punya tempat untuk berbagi selain t uhannya dan dirinya sendiri, ia menulis puisi. Dalam puisinya tertulis, "Meski semua yang kuharapkan dapat jadi tempat berbagi pergi, diri sendiri tak akan pernah lari." Karenanya sekarang ia lebih suka menyendiri.
"Dan kenyataannya adalah setiap perpisahan, sehebat apapun kita ikhlas menerimanya, selalu saja menyisakan kehampaan." -Azhar Nurun Ala Arakan roda-roda membulat serupa Aku didalamnya tenggelam dalam layangan bunga Teduh yang tidak mau beranjak mengamini Semoga hari ini semuanya terjadi Senja hampir menjadi dekat Mungkin akan cair bersamamu jarak yang tak lagi jadi noda ikut membantu melayangkanmu kehadapanku "Selamat datang" Buka suaraku singkat Tapi rupanya angin tidak mau meyampaikannya . . . Lalu kau pergi dalam detik jumpa dan tak terasa Jarak kembali jadi musuh untuk kita. Pertemuan lewati satu angka, kita tidak pernah sesingkat ini .
Dengan motor butut yang hampir semua orang punya, dia pulang menempuh memorinya. proyeksi gambar dari lintingan kenangan di kepalanya membuatnya sesak meski malu untuk terisak. mencermati susuran aspal dan dinding-dinding tebal, lalu menerka tentang apa laku yang pernah ada antara dia dan kekasihnya disana Dengan ransel yang satu-satunya, dia pulang menempuh memorinya. dalam safar yang terasa jauh ini dia berharap jatuh selelah-lelahnya. agar lelahnya habis dan tidak lagi hinggap di setiap dua puluh empat jamnya agar setelah ia pergi lagi dari sana hatinya lega dan tak lagi nelangsa. Dengan sepatu yang itu-itu saja, dia pulang menempuh memorinya. sambil menyusun satu persatu perkara di tepian jalan, lalu berdoa semoga seperti merpati, kenangan ini terbang dan tak perlu lagi mencari.
Comments
Post a Comment