Jenuh
rintik-rintik air dari tampias hujan mengalir di kaca sebelah kita. perlahan jatuh dan mengalir.
Kita yang berlindung dari dinginnya udara luar berbincang hangat,
"emangnya gabosen ya?" terdengar pertanyaan yang sedikit dipaksa keluar dari mulutmu.
"Bosen? sama apa? sama kita?"
"Engga. Sama badan kamu. Gabosen pendek terus?"
"Oh ini sih gabosen. kalo tinggi nanti gaasik banyak yang suka."
"Dih muntah banget dengernya."
"Boleh deh. ke toilet aja dulu nanti kalo udah keluar semua boleh balik lagi."
"Garing kan. Orang lagi serius nih."
"Ngapain serius. Newton aja nemu teorinya sambil bercanda sama pohon apel"
"Bodoooooo!!!" mulutmu membulat. kebiasaan yang kuhafal saat kamu sebal.
Jujur aku bosan. Dengan seluruh kesenangan ini harus diakui senang pun ada batasnya. Tapi bagiku cinta adalah komitmen, kan. Aku bosan. Tepatnya aku sering merasa bosan, tapi tidak pernah berfikir untuk pergi.
"Yaenggalah. Mana ada pernah bosen kalo seneng trus," dusta. Mulut memang bisa jadi pemanis paling ampuh dari segala rasa,
"Yaaa bagusdeh kalo gabosen. Kirain aja gitu kayak di film-film kan cowo cepet banget bosennya."
"Kamu kali tuh yang bosen. cintanya cuma becanda," ucapan yang sebetulnya benar-benar serius kuucapkan tapi sengaja kutambahkan tawa setelah titik. Agar mulut tetap jadi pemanis paling ampuh dan rahasia.
kamu ikut tertawa,
"Heh! cewe itu cintanya dari nol jadi seratus, tau! kalo cowo dari seratus jadi enol! nanti juga kamu yang pergi!" Kamu tambahkan tawa diakhir kalimat sok faktamu. entah itu dusta atau nyata, yang jelas kalimat ini sangat kuingat
"Iyain deh biar seneng."
Hujan diluar yang mereda menjadi tanda waktu sudah terlalu jauh berkelana
"Yaudah pulang yuk! Udah malem"
.........
Tempat yang sama
Hujan dengan air yang berbeda.
Barangkali air hujan yang terus bersirkulasi mengajarkan kita bahwa hidup pun begitu ; berputar dengan kalkulasi.
Kamu memutuskan pergi satu bulan lalu
Dengan alasan yang sering aku rasakan tapi tak pernah diutarakan ;
Bosan.
Hari ini tepat dua tahun setelah perbincangan kita disini, yang didengar oleh saku-saku kaca yang dialiri hujan waktu itu.
Aku dan semesta masih ingat ucapanmu tentang proses mencintai dengan skala 0-100.
Mungkin kita pernah sama sama mencapai setengah skala lalu kembali terjatuh ke titik awal ;
Aku di sempurna seratus
Dan kamu di angka nol.
Dan hei,
kamu tahu?
Aku pernah bosan, tapi tidak pergi
Jujur aku bosan. Dengan seluruh kesenangan ini harus diakui senang pun ada batasnya. Tapi bagiku cinta adalah komitmen, kan. Aku bosan. Tepatnya aku sering merasa bosan, tapi tidak pernah berfikir untuk pergi.
"Yaenggalah. Mana ada pernah bosen kalo seneng trus," dusta. Mulut memang bisa jadi pemanis paling ampuh dari segala rasa,
"Yaaa bagusdeh kalo gabosen. Kirain aja gitu kayak di film-film kan cowo cepet banget bosennya."
"Kamu kali tuh yang bosen. cintanya cuma becanda," ucapan yang sebetulnya benar-benar serius kuucapkan tapi sengaja kutambahkan tawa setelah titik. Agar mulut tetap jadi pemanis paling ampuh dan rahasia.
kamu ikut tertawa,
"Heh! cewe itu cintanya dari nol jadi seratus, tau! kalo cowo dari seratus jadi enol! nanti juga kamu yang pergi!" Kamu tambahkan tawa diakhir kalimat sok faktamu. entah itu dusta atau nyata, yang jelas kalimat ini sangat kuingat
"Iyain deh biar seneng."
Hujan diluar yang mereda menjadi tanda waktu sudah terlalu jauh berkelana
"Yaudah pulang yuk! Udah malem"
.........
Tempat yang sama
Hujan dengan air yang berbeda.
Barangkali air hujan yang terus bersirkulasi mengajarkan kita bahwa hidup pun begitu ; berputar dengan kalkulasi.
Kamu memutuskan pergi satu bulan lalu
Dengan alasan yang sering aku rasakan tapi tak pernah diutarakan ;
Bosan.
Hari ini tepat dua tahun setelah perbincangan kita disini, yang didengar oleh saku-saku kaca yang dialiri hujan waktu itu.
Aku dan semesta masih ingat ucapanmu tentang proses mencintai dengan skala 0-100.
Mungkin kita pernah sama sama mencapai setengah skala lalu kembali terjatuh ke titik awal ;
Aku di sempurna seratus
Dan kamu di angka nol.
Dan hei,
kamu tahu?
Aku pernah bosan, tapi tidak pergi
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete